INFO
  •  Selamat Datang di Website Resmi Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan 
  •  Menuju Agribisnis Yang Bermartabat 
  •  Grobogan Hebat 
  •  Menuju Indonesia Unggul 

Pelatihan Pembuatan Agensia Pengendalian Hayati Ulat Tembakau

Kamis, 15 November 2018

Maraknya penggunaan pestisida kimia untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman ternyata menyimpan berbagai macam masalah. Terjadinya resurgensi, ledakan hama sekunder dan resistensi hama merupakan dampak pemakaian pestisida kimia berlebihan.

Pengendalian organisme pengganggu tanaman yang ramah lingkungan, yaitu salah satunya dengan menggunakan Agensi Pengendalian Hayati (APH) sangat diperlukan. Adanya APH ini diharapkan mampu menjadi penyeimbang ekosistem sehingga tidak menimbulkan kerugian secara ekonomis.

Dalam rangka mensosialisasikan dan mengembangkan penggunaan APH di tingkat petani, Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (BPTPHP) Salatiga bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan mengadakan Pelatihan Pengembangan APH dan Penyebaranya Bagi Petani, Rabu 8 Agustus 2018.

Bertempat di Desa Karangharjo Kecamatan Pulokulon pelatihan tersebut diikuti oleh 25 orang anggota Kelompok Tani Karya Utama. Pengendalian OPT pada tembakau menjadi Fokus dalam pelatihan tersebut.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Tri Wahono mengatakan, “Grobogan memiliki lahan tembakau yang cukup luas, yaitu 2.541 Ha, oleh karena itu gangguan OPTnya juga sangat banyak”.

Salah satu OPT yang sering ada pada tanaman tembakau yaitu ulat grayak.

Dalam pelatihan tersebut BPTPHP mengirimkan 2 orang praktisi APH untuk melatih membuat APH sekaligus cara pengaplikasianya di lahan. Salah satunya adalah perbanyakan jamur Beauveria bassiana dengan media jagung untuk pengendalian hama ulat.

Cara pertanyakan jamur Beauveria bassiana diawali dengan menyiapkan jagung yang telah digiling kemudian cuci hingga bersih, setelah itu jagung dikukus minimal 2 jam dan dinginkan. Jagung dimasukkan ke dalam plastik kecil, dikukus kembali dalam dandang steril selama……, lalu diangkat dan dinginkan. Setelah dingin baru tambahkan bibit jamur dan diamkan selama 2 minggu.

Sudarni, SP salah satu praktisi yang melatih dalam kegiatan tersebut menekankan, dengan pembuatan APH berupa jamur ini dapat menekan biaya budidaya tanaman tembakau karena tidak menggunakan pestisida kimia yang harganya mahal. “Harapanya kelompok tani Karya Utama bisa menjadi acuan pembuatan APH ini untuk kelompok tani yang lain”, pungkas Sudarni. (IP-EP)


Simpan sebagai :

Berita terkait :

Komoditas Unggulan

Agenda kegiatan

Kalender Kegiatan

«

Februari 2020

»
MggSenSelRabKamJumSab
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29

Galeri Video

Peta Dinas Pertanian