INFO
  •  Selamat Datang di Website Resmi Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan 
  •  Menuju Agribisnis Yang Bermartabat 
  •  Grobogan Hebat 
  •  Menuju Indonesia Unggul 

Budidaya Tanaman Hortikultura

BIOEKOLOGI HAMA PENYAKIT CABAI

Cabai besar merupakan tanaman dikenal mempunyai banyak serangan hama dan
penyakit. Karena banyaknya hama dan penyakit serta besarnya kerugian yang
ditimbulkannya, Petani selain mengalami gagal panen, juga harus mengeluarkan
biaya pengendalian hama dan penyakit yang sangat tinggi. Di beberapa tempat di Jawa biaya pengendalian hama dan penyakit pada budidaya cabai besar intensif
mencapai 30% dari seluruh biaya produksi.
Hama dan penyakit pada tanaman cabai bukanlah sebuah hal yang statis. Hama dan
penyakit akan sangat tergantung dari lokasi varietas yang digunakan dan teknik
budidaya yang dilakukan. Masalah hama dan penyakit pada cabai merupakan hal
yang dinamis. Hama thrips menjadi masalah hama yang paling
penting pada hampir di seluruh pertanaman cabai di Indonesia. Demikian juga
dengan serangan penyakit virus kuning (virus gemini) yang akhir-akhir ini menjadi
hal yang lazim ditemui di beberapa sentra produksi cabai.
Untuk lebih detailnya silahkan Download artikel ini…
BIOEKOLOGI HAMA PENYAKIT CABAI
 
 
 

 
 

BUDIDAYA TANAMAN BAWANG MERAH


BUDIDAYA TANAMAN BAWANG MERAH

  1. PEMILIHAN LOKASI

Pemilihan lokasi dilaksanakan dengan memilih daerah tanam di daerah budidaya sesuai persyaratan tumbuh bawang merah. Hal ini dilakukan untuk mencegah kegagalan dalam proses pertumbuhan dan produksi, serta dapat menghasilkan bawang merah yang optimal standar lokasi budidaya. Standar lokasi persyaratan tumbuh bawnag merah sebagai berikut :

  1. Untuk calon lokasi budidaya bawnag merah harus sesuai keadaan agroklimatologi seperti iklim, cuaca, angina,kelembaban, pH tanah (5,5-7) dengan keitinggian tempat sekitar 10 – 800m dpl serta suhu rata – rata + 22C yang mengandung banyak humus dan bahan organic.
  2. Calon lokasi pertanaman dapat diketahuai batas lahan dan sumber air (irigasi dan drainase).
  3. PENENTUAN WAKTU TANAM

Waktu tanam ditentukan berdasarkan perkiraan datangnya musim hujan biasanya September s.d oktober atau pada musim marengan ( setelah tanam padi/jagung saat labuhan) yaitu pada bulan Desember s.d Februari atau tersedianya air irigasi serta berdasar pada kebutuhan.

  1. PENYIAPAN BENIH

Benih yang digunakan adalah benih bermutudari penangkar ynag telah terdaftardi BPSBTPH dan benih tersebut siap tanam ( telah disimpan 2 – 3 bulan) , perompesan 1/3 bagian ujung benih diperlukan jika tunasdalam benih masih 50 – 60% , benih bersih dari kulit yang kering atau kotoran maupun penyakit/hama.

  1. PENYIAPAN LAHAN

Pembersihan lahan adalah membersihkan lahan dari hal – hal yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.Tujuannya adalah diperoleh lahan yang siap diolah dan terbebas dari gangguan fisik (batuan, dll) maupun biologis (gulma atau sisa – sisa tanaman).
Pembuatan bedengan dan pemberian pupuk organic
 

  1. Membajak tanah sedalam 30 cm beberapa kali sampai tanah menjadi gembur dan dipetak – petak dengan sebelumnya diberi pupuk kandang ( 10 ton/ha)
  2. Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 180 – 200 cm dan panjang menyesuaikan lahan.
  3. Jarak antar bedengan ( got/parit dalam) adalah 50 – 60 cm, kedalaman 30 cm.
  4. Membuat got keliling dengan lebar 60 cm dan kedalaman 50 cm.
  5. Membuat pematang lahan /galengan
  6. Pengolahan lahan dilakukan 10 – 15 hari sebelum tanam

Pembuatan lubnag tanam dan jarak tanam

  1. Pembuatan larikan dan lubang tanaman dengan menggunakan sosrok yang berkedalaman ¾ umbi tanah.
  2. Jarak antar baris 15 – 20 cm dengan jarak tanam dalam barisan 10 cm.
  3. PENANAMAN
  4. Penanaman dilakukan dengan dibenamkan ¾ bagian benih bawang merah pada lubang tanam yang tersedia dengan mata tunas menghadap ke atas.
  5. Penanaman dilakukan pada sore hari gunanya untuk mengurangi penguapan pada benih yang dirompes.
  6. PEMUPUKAN
  7. Pemupukan harus mengacu pada empat tepat, yaitu tepat dosis, tepat cara, tepat waktu, dan tepat jenis.
  8. Jenis dan takaran pupuk yang digunakan sebagai berikut :

 
 

NO MASUKAN POTENSI LAHAN    
    TINGGI SEDANG RENDAH
1 UREA 0 25 25
2 SP – 36 0 – 50 50 – 100 100 – 150
3 KCL 0 – 50 50 – 75 75 – 100
4 INOKULUM RHIZOBIUM 200 gr 200 GR 200 gr
5 BAHAN ORGANIK MULSA JERAMI MULSA JERAMI MULSA JERAMI
6 PENGELOLAAN TANAH TOT TOT TOT
7 PENGELOLAAN AIR      

 
 

  • Pupuk dasar diberikan secara sebar merata atau ditugal dimasukan ke dalam kemudian di tutup dengan tanah tipis sebelum tanam pada saat tanah masih lembab, untuk lahan kering/tegal.
  • Kacang hijau yang ditanam setelah padi sawah biasanya tidak banyak memerlukan pupuk buatan.
  • Penggunaan pupuk hayati seperti bakteri penambat N ( Rhizobium ) disesuaikan kebutuhan.
  • PUTK ( perangkat uji tanah kering)
  • Dapat digunakan sebagai salah satu acuan menetapkan takaran pupuk.

 
Pemberian pupuk organic
Pupuk organic terdiri atas bahan organic sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos    ( humus) , yang telah mengalami proses pelapukan, berbentuk padat atau cair, abu dapur sangat baik untuk pupuk dan diberikan sebagai penutup lubang tanam. Lahan kering masam perlu menggunakan kapur pertanian  ( dolomit atau kalsit).

  1. PENGAIRAN

Bila tersedia fasilitas pengairan, dapat dilakukan 3 – 4 hari sebelum tanam dan pada periode kritis kacang hijau terhadap ketersediaan air yaitu saat menjelang berbunga (umur 25 hari) dan pengisian polong (45 – 50 hari). Pengairan diberikan melalui saluran antar bedengan.

  1. PENGENDALIAN OPT

Jenis – jenis hama bawang merah :
Ulat daun : hama yang menyerang bawang merah daunnya. Ulat ini biasanya memotong daun bawang merah hingga habis. Cara memberantas hama ini adalah dengan cara memotong dan mencabut daun – daun yang terserang, setelah terlebih dahulu ulat – ulat yang menyerangnya di bunuh dengan cara dibakar.
Ngengat daun bawang merah : ngengat merupakan hama tanaman bawang merah yang dapat menyebabkan kerusakan tanaman. Ngengat ini biasanya akan merusak bagian yang sebelumnya sudah di serang ulat, sehingga menyebabkan kematian. Pemberantasan hama ini dapat dilakukan dengan menggunakan racun folidol M, folidol E 650, serta serbuk folidol. Yang hasilnya tentu akan memuaskan.

  1. PANEN DAN PASCA PANEN

Umur tanaman bawang merah siap panen bervariasi antara 60 – 90 hari, tergantung varietasnya.Ciri – ciri tanaman bawang merah siap panen adalah umbi tampak besar dan beberapa daun berwarna kecoklatan.Pemanenan sebaiknya dilakukan pagi hari saat cuaca cerah.Keadaan tanah pada saat panen diusahakan kering utuk mencegah terjadinya pembusukan umbi.Panen dilakukan dengan mencabut tanaman secara perlahan.Jika tanah terlalu keras, pencabutan sebaiknya dibantu dengan menggunakan cungkil atau gancu agar umbi bawang merah tidak rusak.
Setelah dipane, umbi dijemur di atas bedengan bekas tanam. Untuk memudahkan proses penjemuran, bawang merah diikat setiap 3 – 5 kg. daun bawang merah yang sudah diikat direbahkan hingga menutupi umbi. Penjemuran dilakukan dengan posisi umbi di bawah, tertutup daun yang direbahkan.Bawang merah ditutup dengan plastic pada sore hari. Lama penjemuran sekitar 3 – 5 hari,tergantung keadaan cuaca, hingga daun bawang merah benar – benar kering. Bawang merah bisa dipasarkan setelah dibersihkan dan dipotong daun akarnya.
 

 
 

BUDIDAYA TANAMAN PEPAYA

Komoditas Unggulan

Agenda kegiatan

Kalender Kegiatan

«

Februari 2020

»
MggSenSelRabKamJumSab
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29

Galeri Video

Peta Dinas Pertanian